Bab 7 Kepelbagaian Kelompok Islam

TUJUH

KEANEKARAGAMAN DALAM ISLAM

SUNNI DAN SYIAH

Islam terdiri atas dua bagian utama: Sunni dan Syiah. Muslim Sunni merupakan mayoritas (sekitar 90 persen), dan buku ini sebagian besar menerangkan tentang kepercayaan dan praktek Sunni. Muslim Syiah hanya mayoritas di Iran, Irak, Azerbaijan dan Bahrain. Di beberapa tempat mereka dianiaya oleh kaum Sunni.

Perpecahan Islam menjadi Sunni dan Syiah bermula lebih kurang 20 tahun setelah kematian Muhammad dalam sengketa perebutan tampuk pimpinan masyarakat Muslim. Khalifah ke empat, yang menerima tampuk pimpinan pada tahun 656, adalah Ali, suami Fatima putri Muhammad. Tidak semua Muslim menerimanya sebagai penerus sah, dan mereka mulai bertikai satu dengan yang lain atas masalah ini.  Ali akhirnya dibunuh  pada tahun 661, dan perjuangannya diteruskan oleh kedua anaknya, Hassan dan Hussein. Hassan diracuni sekitar tahun 670, dan Hussein meninggal dalam pertempuran Karbala pada tahun 680. Para pengikut Ali, Syiah Ali [yang artinya pengikut Ali] menjadi Muslim Syiah.

Doktrin dan Praktek Syiah

Kelompok Syiah berpendapat bahwa Ali adalah imam sah yang pertama (kata pilihan mereka untuk ‘khalifah’) dan menolak ketiga khalifah sebelumnya. Mereka sangat menghormati dia dan anak-anaknya, festival tahunan utama mereka merupakan bentuk peringatan atas kesyahidan Hussein pada tanggal 10 Muharam. Hari itu ditandai dengan drama tentang penderitaan, meratap dan melukai diri. Kaum Syiah percaya bahwa hanya keturunan Ali, yang merupakan garis keturunan sah Muhammad melalui Fatima, yang boleh menjadi imam. Mereka menganggap imam-imam ini adalah manusia yang sempurna dan tanpa dosa.

Kelompok Syiah menambahkan dua kepercayaan kunci pada keenam rukun iman Muslim: pentingnya imamah dan bahwa keadilan merupakan bagian dari sifat Allah. Praktek kawin kontrak mereka telah dijelaskan pada bab sebelumnya. Kelompok Syiah berpendapat bahwa ijtihad (penalaran logis) masih mungkin dilaksanakan, yakni ada bagian-bagian dari syariah yang bisa disesuaikan dengan kondisi.  Sebaliknya, kelompok Sunni percaya bahwa syariah tidak boleh diubah sama sekali.

Barangkali seorang Kristen yang sedang berusaha membangun hubungan persahabatan dengan seorang Muslim Syiah perlu mewaspadai ciri paling penting dari Islam Syiah, yaitu adanya praktek taqiyya [penipuan]. Islam Syiah memperbolehkan pengikutnya untuk berbohong, menipu dan menyangkali apa yang benar-benar mereka percayai, sepanjang mereka tetap berpegang pada keyakinan agama mereka dalam hati mereka. Seorang peramal Syiah dari abad ke sepuluh, Ibnu Babuya al-Saquq menyatakan, ‘Adalah keyakinan kami bahwa taqiyya itu wajib…Allah telah menunjukkan bahwa hubungan persahabatan dengan orang tidak percaya hanya dimungkinkan dalam keadaan taqiyya’. (Lihat hal. 14-15 untuk penjelasan lebih rinci tentang taqiyya)

 

Subbagian dari Islam Syiah

Kelompok Syiah terpecah lagi menjadi berbagai sekte. Yang paling terkenal adalah Ismailiyah, yang dipimpin oleh Agha Khan. Baik Druzes maupun Bahais keduanya berasal dari Islam Syiah juga, meskipun mereka telah menyimpang jauh dari ajaran Syiah sehingga tidak lagi dianggap sebagai Muslim.

Sub-bagian terbesar Syiah disebut ‘Dua Belas Imam‘ (Imamiyah). Mereka mengakui dua belas imam, Ali sebagai imam yang pertama dan Muhammad al-Mahdi adalah imam ke duabelas, seorang anak lelaki berumur 4 tahun yang menghilang ke sebuah gua dekat Baghdad sekitar tahun 873 atau 874.  Imam ke duabelas, yang disebut ‘imam yang tersembunyi’, diyakini masih hidup dan terus memberikan pengaruh rohani kepada para pengikutnya. Menjelang kiamat ia akan kembali sebagai Mahdi [orang yang mendapat petunjuk yang benar] dan mendirikan pemerintahan Islam di seluruh dunia.

Imam ke enam, Jafar al-Sadiq (meninggal pada tahun 765), berperan sangat penting dalam pengembangan dan konsolidasi sistem teologi dan hukum Syiah, dan Syiah Imamiyah sering disebut Jafaris.

Setelah kematian imam ke enam, pengikutnya terpecah memilih antara kedua anaknya – Ismail atau Musa – yang bakal diangkat sebagai pengganti. Para pengikut Ismail dikenal sebagai ‘umat Imam Ke Tujuh’ atau Ismailiyah. Di akhir abad ke delapan dan awal abad ke sembilan, keturunan-keturunan Ismail membentuk suatu perkumpulan rahasia yang hirarkis dan rumit. Di awal abad ke sepuluh terdapat ketidakpuasan di antara para petani, budak dan masyarakat biasa terhadap kekaisaran Abbasiyah, dan propaganda revolusioner Ismailiyah menarik hati seluruh elemen masyarakat yang tidak puas itu.

ALIRAN SUFI ILMU KEBATINAN ISLAM

Para Sufi adalah penganut ilmu kebatinan Islam. Aliran Sufi menarik pengikut dari berbagai latar belakang sosial dan intelektual, yang dapat dikelompokkan pada hampir semua kelompok dan sekte Islam kecuali (barangkali) kaum Wahhabi dan Ahmadiyah. Para pendiri persaudaraan atau ordo Sufi dihormati sebagai orang kudus (pirs), demikian juga para penerusnya. Orang-orang kudus dianggap memiliki kuasa untuk bersyafaat dan memberkati. Al Ghazali (1058-1111), teolog dan pembaharu iman Islam dari Persia adalah seorang Sufi.

Gerakan ini dimulai oleh para pertapa yang berusaha meninggalkan hidup duniawi dengan cara hidup dalam kesederhanaan, ketenangan dan kepasifan. Kemiskinan dan kemurnian adalah ciri mereka.  Salah satu pertapa di abad ke delapan mempunyai kebiasaan memakai jubah dari bahan wol, dan mungkin inilah yang menjadi asal nama ‘Sufi’, yang dalam bahasa Arab artinya ‘wol’. Atau, bisa juga nama tersebut berasal dari kata safu, yang artinya ‘kemurnian’ dalam bahasa Arab.

Inti dari aliran Sufi adalah keinginan akan adanya hubungan kasih pribadi dengan Allah dan adanya perasaan dekat dengannya, yang pada akhirnya membentuk persatuan dengan Allah. Kerinduan ini diekspresikan dalam banyak puisi cinta yang indah. Metode yang digunakan untuk mencapai kondisi penyatuan ini meliputi meditasi, perenungan dan menyebut salah satu dari nama Allah secara berulang-ulang dan tanpa henti. Pengulangan ini disebut dzikir [mengingat Allah], dan tujuannya adalah membuat orang mengalami trance (kesurupan). Tasbih juga digunakan selama pembacaan dzikir. Maulawiya, salah satu persaudaraan Sufi, yang berasal dari Turki, menggunakan tarian berputar-putar untuk masuk ke dalam keadaan trance sehingga kadang-kadang disebut ‘darwis berputar’.

Aliran Sufi telah sering menjadi kontroversi. Bahkan di masa-masa awal, pengikut Sufi dikutuk oleh banyak Muslim karena praktik mereka, pakaian mereka pun tampaknya dicontoh dari pertapa dan biarawan Kristen di masa itu. Fakta bahwa mereka senantiasa mengabaikan larangan-larangan Islam tertentu, contohnya, minum alkohol, juga membuat mereka mendapat kecaman dari Muslim ortodoks lainnya.

Di antara para pengikut Sufi, perbedaan antara laki-laki dan perempuan cenderung tidak terlihat. Beberapa wanita bahkan menjadi ulama dan pemimpin agama yang dihormati. Dewasa ini banyak wanita menjadi pengikut ulama Sufi. Beberapa menjadi murid dari seorang pemimpin rohani yang dipilih, meskipun pentahbisan yang sebenarnya biasanya hanya disediakan bagi laki-laki saja. Banyak wanita yang pergi bersama kerabat lelakinya untuk berziarah ke tempat keramat orang-orang kudus, terutama untuk merayakan kelahiran atau kematian orang kudus tersebut dan memohon pertolongannya mengenai masalah kesehatan dan keluarga.

Kaum Sufi dari dulu hingga sekarang adalah mualim yang hebat. Mereka terutama aktif di Asia Tengah; contohnya, mereka membawa Islam ke Mongol. Saat ini aliran Sufi merupakan pilihan menarik bagi orang Barat yang beralih menjadi pemeluk Islam. Para Sufi bukan pecinta damai dan banyak dari mereka yang berperan serta dalam beberapa gerakan jihad.

ISLAM RAKYAT

Islam rakyat adalah salah satu nama yang diberikan kepada suatu bentuk Islam yang dianut oleh jutaan Muslim biasa maupun Muslim yang terpelajar. Islam yang populer ini sangat berbeda dari versi resmi, dan cirinya adalah rasa takut terhadap kuasa-kuasa jahat, seperti jin, mata jahat, dan penggunaan okultisme. Hal ini berkaitan dengan aliran Sufi dan mencakup kepercayaan pra-Islam masyarakat lokal dan tahayul dalam Islam.

Islam rakyat didominasi oleh rasa takut. Termasuk di dalamnya adalah ilmu gaib, ilmu sihir, mantera-mantera,  guna-guna, kutukan-kutukan, yang kesemuanya itu dirancang untuk mencapai tujuan tertentu. Jimat, sebagai alat pelindung terhadap roh jahat, diikatkan di pakaian, diselipkan di atas pintu atau digantung di kaca spion mobil. Doa-doa yang dipanjatkan orang kudus Muslim – baik yang masih hidup maupun yang sudah mati – juga sangat penting. Muslim awam biasanya mengunjungi pemimpin agama setempat atau peramal untuk mencari pertolongan mengenai masalah kesehatan, percintaan, kerasukan setan dan berbagai masalah lainnya.

Kepercayaan dan praktek ‘Islam tingkat tinggi’ – Islam yang dijelaskan sebelumnya dalam buku ini – diberi pelintiran berbeda dalam Islam ‘tingkat rendah’ ini. Kepercayaan terhadap ke-esa-an Allah menjadi seperangkat formula magis dengan menggunakan namanya untuk keuntungan pribadi, seperti untuk mendapat penyembuhan atau menemukan barang yang hilang. Kepercayaan kepada malaikat dinyatakan melalui doktrin bahwa seseorang memiliki sebuah roh yang dekat dengannya, roh kembarannya yang berbeda jenis kelamin, yang lahir bersamaan dengan orang tersebut namun merupakan keturunan setan. Kepercayaan kepada kitab-kitab suci Allah menjadi kepercayaan atas kuasa Quran seperti  jimat: pasal-pasal tertentu dipakai untuk melawan roh-roh jahat; penggunaan suatu ayat tertentu bagus untuk menyembuhkan sakit kepala; dsb.

Demikian pula halnya dengan rukun Islam juga diubah dengan berbagai arti tambahan di dalam Islam rakyat. Kata-kata di dalam kalimat syahadat dianggap sebagai alat supernatural untuk menangkis serangan kejahatan, oleh karenanya banyak ditemukan pada jimat-jimat. Wudhu sebelum sembahyang dipercaya dapat melunturkan pengaruh setan. Memberikan sedekah dipercaya dapat menangkis mata jahat akibat iri hati. Berpuasa dan naik haji dapat membantu mengusir roh-roh jahat, menghalau penyakit, dll.

ISLAM TRADISIONAL

Mayoritas Muslim yang taat adalah kaum tradisional yang menerima Islam sejalan dengan perkembangannya di abad-abad awal. Mereka percaya bahwa syariah, yang dirumuskan di abad pertengahan, tidak bisa diubah lagi karena ‘gerbang penalaran independen’ telah ditutup seiring dengan terbentuknya berbagai mazhab. Pendekatan Islam yang dilakukan oleh kaum tradisional adalah lewat ke empat mazhab disertai komentar-komentar panjang berisi penjelasannya, yang belakangan ditulis oleh para ulama. Namun demikian, banyak tradisionalis yang juga terlibat dalam aliran Sufi dan Islam rakyat.  Sebagian besar menolak inovasi, interpretasi baru atau reformasi, dan juga menolak sekularisme dan budaya Barat.

ISLAM RADIKAL

Setengah abad terakhir ini, kita melihat perkembangan sebuah bentuk Islam yang mungkin paling cocok jika disebut ‘fundamentalis’ atau ‘radikal.’ Tujuan dari bentuk Islam ini adalah untuk kembali kepada asal mula Islam. Orang-orang Islam sering menyebut proses ini sebagai ‘reformasi’, tetapi orang non-Muslim harus menyadari bahwa reformasi ini bukan menuju ke arah sikap liberal atau modern melainkan ke arah sebaliknya.

Berbagai argumen telah diajukan untuk menjelaskan mengapa Islam radikal dikembangkan.  Tampaknya, salah satu pencetusnya adalah reaksi terhadap kolonialisme. Pemicu yang lain adalah pemberian kemerdekaan kepada hampir seluruh bekas koloni Eropa, sehingga memberikan rasa percaya diri kepada umat Muslim yang tadinya dijajah (Lihat hal. 69). Pemicu lainnya lagi adalah dimulainya abad ke-15 Hijriyah, yakni November 1979 menurut kalender masehi; yang menyatakan bahwa Islam akan diperbaharui pada permulaan setiap abad. Sudah barang tentu pada paruh kedua tahun 1979 ditandai dengan sejumlah tindakan dramatis Muslim, termasuk di dalamnya adalah Revolusi Iran.

Menurut ajaran Islam, satu-satunya penyebab kaum Muslim dapat dikalahkan atau dipermalukan adalah karena mereka tidak setia dalam menjalankan ibadah agama mereka. Oleh karena itu, kembali kepada Islam model Muhammad dengan negara Islamnya yang pertama di Madinah dianggap sebagai upaya pemurnian dan pembaharuan iman Islam. Model ini mencakup pemerintahan yang dijalankan dengan syariah dan ekspansi melalui jihad. Kaum radikal ingin menciptakan kembali jaman keemasan yang pernah dialami Islam di bawah pimpinan keempat khalifah pertama dan berbagai kekaisaran Muslim di masa kejayaan militer dan budaya mereka. Akibatnya timbullah gerakan untuk membangun negara Islam yang tunduk kepada syariah di seluruh dunia.

Beberapa tema teologis merupakan karakteristik dari gerakan pembaharuan Islam radikal. Salah satu adalah penekanan pada sikap penundukan mutlak terhadap otoritas Quran dan sunna, dan dari sini lalu muncul penekanan Arabisasi Islam di belahan dunia Muslim yang non-Arab. Quran disebut tanzil, yaitu yang dikirim dari surga dan karena itu Quran adalah sebuah wahyu.

Tema lain adalah dari contoh hijrah Muhammad, yaitu bermigrasi untuk melarikan diri dari penganiayaan dan penderitaan demi mencapai posisi kekuasaan militer dan politis. Hal ini memberikan dorongan bagi umat Muslim bahwa bagaimanapun juga pada akhirnya mereka akan menang.

Tauhid, ke-Esaan Allah, disertai dengan konsep membawa semua yang hidup untuk tunduk kepada Tuhan yang Esa. Dosa paling mengerikan, dosa syirik – mempersekutukan sesuatu dengan Allah – mempunyai implikasi bahwa kesetiaan kepada umma harus melampaui kesetiaan terhadap negara.   Terakhir adalah larangan bida (pembaharuan) untuk mencegah kemungkinan Islam beradaptasi ke dalam dunia modern.

Kaum radikal berusaha mencapai tujuan mereka dengan berbagai cara, yaitu untuk mendirikan negara Islam di seluruh dunia (termasuk di negara Barat). Tahap pertama adalah membentuk suatu masyarakat Islam alternatif di setiap negara, dan bila komunitas tersebut telah cukup kuat, akan mengambil alih pusat kekuasaan negara. Kelompok radikal garis keras lebih suka memakai terorisme, revolusi dan penggulingan kekuasaan sebagai metode untuk menghancurkan stabilitas negara dan mengambil alih kekuasaan politik. Kelompok yang lain memilih untuk menyebarkan Islam kepada individu maupun kelompok melalui dakwah, dan sering diikuti oleh tawaran pemberian bantuan material bagi mereka yang bersedia berpindah agama. Di Barat, proses ini dilakukan dengan tujuan utama untuk melibatkan diri dengan struktur politik dan masyarakat sehingga dapat memberi ruang gerak bagi Islam, sebagai pendahuluan atas dominasi Islam. Efek demografis keluarga Muslim yang besar dengan istri yang banyak kelihatannya juga membawa dampak dramatis dalam masyarakat di berbagai belahan dunia selama satu atau dua generasi ini, terutama di Eropa.

ISLAM PROGRESIF (MODERN, LIBERAL)

Kaum progresif ingin mereformasi Islam dengan cara memasukkan pengaruh Barat. Mereka menerima kebijakan negara yang memisahkan antara yang bersifat sekuler dan agama. Mereka lebih menekankan penalaran daripada pewahyuan. Mereka menafsir ulang Quran dan hadits sehingga sejalan dengan sekularisme dan liberalisme, konsep Barat tentang hak asazi manusia, multikultur dan persamaan hak. Mereka juga bersedia menggunakan sarana akademis Barat berupa kritik tekstual dalam memeriksa kitab-kitab suci Muslim.

Kaum progresif sangat berpengaruh pada tahun 1920-an dan 1930-an dan di awal kemerdekaan berbagai negara Muslim. Namun, saat ini kebebasan mereka dalam berpendapat dikekang di kebanyakan negara Muslim, di mana mereka berada di bawah tekanan luar biasa dari para tradisionalis dan Islamis. Mereka menghadapi tuduhan murtad dan melakukan penghujatan, mereka juga menghadapi ancaman kekerasan dan kematian; sehingga banyak dari mereka yang bermigrasi ke negara Barat.

This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Bab 7 Kepelbagaian Kelompok Islam

  1. cahyono says:

    @ustads alienmerrs.
    MENURUT HADIST & QURAN.
    MUSLIM TIDAK BISA MASUK SORGA.

    * Hadist Shahih Muslim No. 2412
    “Hadis riwayat Abu Hurairah R.A.: Dari Rasulullah SAW bahwa beliau bersabda: Tidak seorang pun di antara kalian yang akan diselamatkan oleh amal perbuatannya. Seorang lelaki bertanya: Engkau pun tidak, wahai Rasulullah? Rasulullah SAW menjawab: Aku juga tidak, hanya saja Allah melimpahkan RAHMAT-Nya kepadaku akan tetapi tetaplah kalian berusaha berbuat dan berkata yang benar.”

    Dikatakan bahkan, Muhammad mengakui bahwa dia sendiri tidak bisa diselamatkan, kecuali dengan RACHMAT ALLAH.

    Sedangkan dalam Qs. 19:21

    ISA ADALAH RAHMAT ALLAH, dan dalam Injil, YESUS ADALAH ANUGERAH KESELAMATAN ALLAH, DIA ADALAH TUHAN DAN JURUSELAMAT MANUSIA.

    Nyata, sekarang Isa/Yesus ada disurga, (tak ada yang bisa bantah) dan akan datang kembali……dan mengumpulkan kambing/domba2nya…Umat kambing. dimasukan ke NERAKAAA….

    Tapi para ulama pintar untuk mengelabui hal ini, dengan trik-trik gombal, beginilah, begitulah, nyatanya berhasil, umatnya saja yang mengalami pembodohan bahasa, bahkan ulama lebih hebat dari nabi Muhammad bisa menjamin sorga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s