Bab 6 Sejarah Islam

ENAM

SEJARAH ISLAM

(Lihat Juga Lampiran II)

KHALIFAH RASHIDUN (YANG TELAH DITUNTUN DENGAN BENAR)
DAN PENYEBARAN ISLAM

Muhammad digantikan oleh Abu Bakar sebagai khalifah (pemimpin masyarakat Islam), salah satu pengikutnya yang pertama, pada tahun 632. Abu Bakar bukan hanya menumpas sejumlah pemberontakan yang muncul begitu Muhammad meninggal, sehingga memperkuat dan menstabilkan negara Islam, tetapi juga memulai peperangan melawan kekaisaran Byzantium dan Persia. Dalam masa pemerintahannya yang singkat, Syria ditaklukkan oleh tentara Islam.

Abu Bakar digantikan oleh khalifah Umar pada tahun 634, yang kemudian terbunuh pada tahun 644 dan selanjutnya digantikan oleh khalifah Usman. Di masa itu Irak, Persia dan Mesir ditaklukkan secara berturutan, dan pada tahun 655 (ketika Usman dibunuh) batas negara Islam telah mencapai Afganistan di timur, Libya di barat, dan pegunungan Kaukasus di utara.

Pada masa pemerintahan khalifah ke empat, Khalifah Ali (656-661; Ali bin Abu Thalib, suami dari Fatima, putri Muhammad), terjadi tiga perpecahan besar dan keras di dalam masyarakat Muslim menyangkut masalah siapa yang layak menjadi khalifah (lihat hal. 71). Di masa inilah Islam Syiah terbentuk. Setelah 5 tahun perang saudara, Ali dibunuh dan Muawiyya (kepala klan Usman, bani Umayyah) ditetapkan sebagai khalifah dengan ibukotanya di Damaskus. Kematian Ali menandai berakhirnya era Jaman Keemasan Muslim, era empat khalifah yang telah dituntun dengan benar (Rasyidin), yang masing-masing dari mereka memiliki hubungan pribadi yang dekat dengan Muhammad.

KEKAISARAN SUNNI

Sejak pemerintahan Muawiyya (661-680) hingga seterusnya, kedudukan khalifah diwariskan secara turun-temurun, dan serangkaian dinasti Sunni yang kuat menguasai sebagian besar dunia Muslim.  Penaklukan dan pengambil alihan negara-negara non-Muslim berlanjut terus dengan cepat.

Tidak sulit untuk mengetahui mengapa bisa terjadi ekspansi yang demikian cepat. Orang Arab, setelah begitu lama terpecah-belah, telah dipersatukan dibawah kepemimpinan Muhammad yang dinamis dan terus didorong oleh semangat keagamaan dan keinginan untuk menjarah. Selain itu, banyak orang Kristen yang hidup di bawah kekaisaran Byzantium membenci hukum kekaisaran tersebut sehingga mereka tidak  bersedia ikut membela kekaisaran itu.

Gereja di Afrika Utara yang dulunya kuat, dibawah kepemimpinan orang-orang seperti Agustinus, Athanasius, Cyprian dan Tertulian, saat itu dihadapkan pada masalah perpecahan dan perebutan  kekuasaan. Meskipun mereka berhasil mengatasi serangan Muslim yang pertama di abad ke-7, mereka semakin melemah pada masa kekuasaan Muslim. Di bawah Alhomad yang puritan (1094-1163) gereja akhirnya dilenyapkan, kecuali di Mesir, dimana sebuah komunitas Koptik yang besar masih bertahan.

Bani Umayyah (661-750)

Bani Umayyah memerintah dari Damaskus dan melanjutkan peperangan dengan Byzantium hingga ke Afrika Utara, menyeberang ke Spanyol (711), dan serangan mereka ke Perancis tertahan oleh Perang Tours/Poitiers pada tahun 732. Ekspansi ke timur menuju Asia Tengah dan India Utara juga dilakukan, dan tentara Muslim mencapai Multan di Punjab pada tahun 713.

Bani Abbasiyah (750-1258)

Pada tahun 750 bani Umayyah digantikan oleh bani Abbasiyah, yang merupakan keturunan Abbas, salah satu dari paman Muhammad dalam sebuah pemberontakan berdarah. Mereka mengembangkan basis kekuatan utama mereka di Persia, dengan dukungan kaum Muslim non-Arab yang membenci superioritas orang Arab. Pada era awal Abbasiyah inilah detil-detil peraturan syariah mulai dikembangkan oleh para ulama. Aliran Sufi [Islam mistis] juga berkembang di bawah kekuasaan Abbasiyah, demikian pula halnya dengan kelompok yang disebut Mutazilit, yang percaya bahwa Quran diciptakan pada waktu dan tempat ketika Muhammad menerimanya, dan bukan berada kekal di surga.

Pemerintahan Abbasiyah, yang berpusat di ibu kota baru mereka Baghdad, membawa kembali ‘jaman keemasan’ Islam klasik pada abad ke-9 dan 10, yang termasuk juga perkembangan pesat ilmu pengetahuan dan seni. Kristen dan Yahudi minoritas memainkan peranan penting dalam perkembangan budaya ini, begitu pula terjemahan karya-karya Yunani kuno.

Kekuasaan khalifah menurun secara berangsur-angsur seiring dengan semakin independennya berbagai daerah di bawah penguasa Muslim setempat. Pada tahun 1258 Baghdad ditaklukkan, dan meskipun kekhalifahan Abbasiyah kemudian dibangkitkan kembali di Kairo namun ia hanya menjadi boneka tanpa kekuasaan yang sesungguhnya.

Bani Seljuk (pertengahan abad ke 11 – pertengahan abad ke 13)

Dari abad 10 dan seterusnya, bani Seljuk, kelompok suku nomaden Turki dari  Asia Tengah, bergerak ke  arah barat menuju Persia, Azerbaijan dan Anatolia. Banyak dari suku-suku mereka yang beralih ke Islam Sunni. Orang-orang Turki membentuk kelompok militer baru dan menjadi prajurit garis depan bagi ekspansi Muslim ke dalam kekaisaran Byzantium Kristen. Tentara budak Turki (Mamluk, secara harafiah berarti ‘dimiliki’) semakin banyak digunakan untuk memperkuat tentara kekaisaran Islam, dan komandan mereka (sultan) menjadi pemain politik yang kuat.

Pada akhirnya kaum Seljuk melepaskan ketergantungan mereka dengan Islam dan mengambil alih kekuasaan yang sesungguhnya. Seljuk ‘Besar’ menaklukkan daerah-daerah utama Muslim di Persia dan Baghdad antara tahun 1035 dan 1055. Pada saat yang sama kelompok Seljuk yang lain, dikenal sebagai Seljuk ‘Kecil’, secara aktif melawan kekaisaran Byzantium di Anatolia.

Selama perang salib, para sultan Mesir Mamluk memainkan peran utama dalam mengalahkan Tentara Salib dan membangun kembali pemerintahan Muslim di wilayah yang dulunya mereka kuasai.

Di akhir abad ke-12 dan awal abad ke-13, kekuasaan Seljuk Besar menurun karena adanya perpecahan internal dan serangan luar dari Mongol (lihat di bawah). Seljuk Kecil di Anatolia masih bertahan sedikit lebih lama namun akhirnya dikalahkan Mongol pada tahun 1243, meskipun mereka terus memerintah Anatolia hingga awal abad ke-14.

Bani Ayubiyah (1171-1250)

Saladin (Salah al-Din), putra seorang jendral Kurdi yang bernama Ayub, meruntuhkan kekaisaran Ismailiyah Syiah Fatimiyah pada tahun 1171 dan membentuk dinasti Ayubiyah, yang memerintah baik Mesir maupun Syria. Ia meninggal pada tahun 1193 setelah meraih banyak kemenangan terkenal melawan Tentara Salib, dan penerus dinasti tersebut memerintah hingga tahun 1250, tatkala sultan terakhir Ayyubiyah dikudeta oleh komandan Mamluk.

Bani Mamluk (1250 – 1517)

Bani Mamluk adalah tentara budak yang digunakan oleh kaum Abbasiyah sebagai tentara professional untuk menggantikan pasukan Arab yang tidak dapat diandalkan. Negara Mamluk yang didirikan di Mesir (1250-1517) juga memerintah di bagian tenggara Asia kecil, Syria dan sebelah barat Arab. Untuk meningkatkan legitimasi mereka, mereka menempatkan seorang khalifah Abbasiyah sebagai boneka di Kairo di bawah kendali mereka sepenuhnya. Hingga pertengahan abad ke-15, negara Mamluk menjadi kekuatan militer yang tidak tergoyahkan dalam dunia Muslim barat. Kendali mereka atas Mekah dan Madinah memberi mereka legitimasi tambahan di mata Muslim.

Bangsa Mongol

Setelah Genghis Khan muncul dan berkuasa atas seluruh Mongolia, pasukannya menyerang wilayah Muslim di Asia Tengah dan Iran serta menghancurkan Baghdad pada tahun 1258, mengakhiri dinasti khalifah bani  Abbasiyah. Ekspansi bangsa Mongol dihentikan di Syria oleh tentara Mamluk Mesir pada tahun 1260, tetapi mereka membentuk negara Mongol di wilayah taklukan mereka yang luas, yang kemudian dijadikan Islam Sunni. Pada abad ke-14 Timurlane (memerintah 1370-1405) membentuk sebuah kerajaan yang luas dengan ibu kotanya di Samarkand. Dia menghancurkan sisa-sisa kekristenan terakhir di Asia Tengah.

 

KEKAISARAN SYIAH

(lihat halaman 71 untuk asal usul dan kepercayaan Islam Syiah)

Awalnya kaum Syiah mendukung bani Abbasiyah, dengan harapan bani Abbasiyah akan memberikan tampuk khalifah kepada keturunan khalifah Ali. Tetapi bani Abbasiyah kemudian semakin berkomitmen terhadap Islam Sunni, dan kaum Syiah dikesampingkan. Selama periode Abbasiyah, kelompok Syiah membentuk Syiah Imamiyah sebagai pemimpin teologis utama mereka, dan menetapkan daftar imam yang diterima; banyak diantaranya harus bersembunyi karena takut kepada penguasa Abbasiyah. Dari tahun 954 hingga 1055 Syiah menikmati masa kebebasan yang lebih besar saat dinasti Syiah Buyid berkuasa di Baghdad, namun periode itu berakhir saat Seljuk Sunni naik ke tampuk kekuasaan.

Sementara itu, dinasti Syiah lokal, kaum Hamdani, muncul di Syria, menguasai Aleppo dan Mosul di bawah pemerintahan Abbasiyah dari 935 sampai 1016.

Dinasti Turkoman Safawi memerintah di Persia pada tahun 1501 dibawah Shah Ismail. Dia menerima ajaran Syiah Imamiyah sebagai agama negara dan memaksa masyarakat Sunni untuk beralih kepada keyakinannya. ( lihat hal. 67 untuk lanjutan sejarah kekaisaran Safawi)

Kaum Fatimiyah (910 – 1171)

Persaingan kekhalifahan Ismailiyah dengan Sunni berlangsung di Ifriqiya (Libya modern dan Tunisia) pada tahun 910, oleh kaum Fatimiyah. Kaum Fatimiyah mengaku sebagai keturunan Fatima, putri dari Muhammad. Tiga orang khalifah Fatimiyah yang pertama memerintah hanya di Ifriqiya, tetapi mereka mengklaim hak mereka sebagai pemimpin atas seluruh dunia Muslim. Pada tahun 969, Muizz, khalifah ke empat dari klan Fatimiyah, menaklukkan Mesir dan mendirikan sebuah kota baru bernama Kairo dan menjadikannya sebagai ibu kota, dan mesjid besar al-Azhar sebagai pusat keagamaan kaum Ismailiyah. Dari situlah kepercayaan Ismailiyah disebarkan ke seluruh penjuru.

Kaum Fatimiyah memerintah Mesir selama dua abad dan bersaing dengan bani Abbasiyah di Baghdad untuk menguasai seluruh dunia Islam. Mereka dengan cepat memperluas kekaisarannya menuju Syria, Palestina dan Arab, termasuk kota-kota suci Mekah dan Madinah. Mereka adalah penyokong besar bagi seni dan budaya, dan di bawah mereka, Mesir menjadi pusat peradaban yang maju. Pada abad ke-12, kekuasaan para khalifah mulai menurun karena mereka hanya berfungsi sebagai boneka saja; sementara wazir merekalah yang menjadi pemerintah yang sesungguhnya dengan menggunakan nama mereka.

Sultan Sunni Ayyubiyah, Saladin, membasmi kekhalifahan Fatimiyah pada tahun 1171.

Kaum Ismailiyah Nizari (Assassin)

Cabang Nizari dari Islam Ismailiyah menciptakan negara Ismailiyah kecil berbasis di benteng Alamut di pegunungan Persia utara. Di Syria juga terdapat kaum Ismailiyah Nizari; pemimpin mereka yang paling terkenal, Rashid al-Din Sinan (1133-1193) dikenal sebagai ‘Orang Tua dari Gunung’. Mereka menggunakan pembunuhan sebagai senjata politik baik untuk melawan pemimpin Muslim maupun Kristen, dan biasanya mereka lakukan secara terbuka untuk menciptakan publisitas maksimal dan ketakutan. Karena kebencian mereka terhadap kaum Sunni, kaum Assasin (kaum pembunuh) ini rela bersekutu dengan Tentara Salib untuk jangka pendek.

Akibatnya, kaum Ismailiyah dibenci oleh kaum Sunni, sehingga sering terjadi pembantaian sporadis terhadap kaum Ismailiyah. Alamut jatuh ke tangan Mongol tahun 1256, dan pada saat yang sama kaum Mamluk menghancurkan kekuasaan Ismailiyah di Syria. Imam Assasin terakhir menyelundupkan putranya ke Azerbaijan, dan gerakan tersebut kemudian menyebar ke derah-daerah India. Pada tahun 1840, Imam Hassan Ali Shah yang bergelar Agha Khan tinggal di India. Saat ini terdapat komunitas kecil Ismailiyah Nizari, terutama di India, Pakistan, Afganistan, Afrika TImur, Syria dan di negara Barat.

 

PERANG SALIB

Penaklukan Tanah Suci dan wilayah Kristen lainnya seperti Syria, Mesir, Afrika Utara dan Spanyol oleh tentara Muslim pada awal jihad Islam di abad ke tujuh sangat mendatangkan dukacita bagi dunia Kristen. Perang Salib, yang merupakan reaksi umat Kristen yang terlambat terhadap jihad ini, dimulai atas permintaan Kaisar Byzantium dan masyarakat Kristen di Timur Tengah, kepada saudara-saudara seiman mereka di Eropa untuk membantu melawan kaum Muslim penindas dan penyerang. Di bawah pemerintahan dinasti Fatimiyah di Mesir terjadi penganiayaan sporadis terhadap orang-orang  Kristen, terutama di masa khalifah al-Hakim (985-1021), yang pada tahun 1009 menghancurkan Gereja Makam Suci di Yerusalem dan melarang orang Kristen mengunjugi situs tersebut selama sebelas tahun. Selain itu, kekaisaran Byzantium juga diserang oleh Seljuk Turki, yang juga menghalangi perjalanan ziarah orang Kristen ke tempat-tempat suci Kristen di Yerusalem.

Perang Salib pertama dimulai pada tahun 1096, dan selanjutnya diikuti oleh delapan Perang Salib lagi selama kurun waktu 200 tahun lebih. Baik pasukan Muslim maupun Tentara Salib bertempur dengan bengis. Setelah keberhasilan awal Tentara Salib, negara-negara Kristen didirikan di Syria dan Palestina. Untuk beberapa waktu hal-hal berikut menjadi bagian kejadian sehari-hari, terlibat dalam aliansi sporadis dengan beberapa negara-negara Muslim melawan negara Muslim dan Kristen lainnya. Namun, lama-kelamaan, Tentara Salib mulai kalah angin, dan Sultan Saladin mencetak prestasi di bidang militer dengan merebut kembali Yerusalem bagi Islam di tahun 1187. Kaum Mamluk Mesir melanjutkan penyerangan terhadap kerajaan-kerajaan Tentara Salib, dan benteng Tentara Salib terakhir pun jatuh pada tahun 1291.

Muslim hari ini menggunakan insiden Perang Salib untuk memaksakan pengakuan bersalah dari masyarakat Barat modern yang tidak nyaman terhadap imperialisme, kolonialisme, dan insensifitas budaya. Memang harus diakui bahwa setelah Perang Salib yang pertama, motif dan tingkah laku orang-orang Kristen mengalami deteriorisasi. Mereka bahkan membunuh orang-orang Yahudi dan orang Kristen Timur. Tetapi dalam perdebatan ini, jarang sekali disebutkan fakta penting bahwa Perang Salib sebenarnya adalah serangan balasan sebagai respon atas jihad Muslim dan penganiayaan kaum Muslim terhadap umat Kristen.

SPANYOL ISLAM – ALANDALUS (711-1492)

Penaklukan Islam terhadap Spanyol Kristen dimulai pada tahun 711 di bawah pimpinan Tariq bin Ziyad, jenderal kaum Berber, yang membawa sebagian besar Semenanjung Iberia ke bawah kekuasaan Islam selama tujuh tahun masa penjajahan. Pasukan Muslim lalu bergerak ke arah timur laut menyeberangi  Pyrenees namun dikalahkan oleh Charles Martel, pemimpin kaum Frank, dalam Pertempuran Tours/Poitiers tahun 732. Orang-orang Kristen di kantong utara yang berhasil lolos dari kekuasaan Muslim memulai proses perebutan kembali (Reconquista) dan perlawanan yang panjang, yang berlangsung selama hampir 800 tahun.

Pada mulanya Al-Andalus diperintah oleh gubernur yang ditunjuk oleh khalifah klan Umayah di Damaskus. Ketika dinasti Umayah ditumbangkan oleh bani Abbasiyah tahun 750, pangeran Abd al-Rahman dari bani Umayyah melarikan diri ketika keluarganya dibantai. Dia tiba di Spanyol tahun 756, di mana ia mentahbiskan diri sebagai Emir Cordoba, dan menolak untuk tunduk kepada khalifah Abbasiyah yang baru. Tahun 929 cucunya, Abd al Rahman III, memproklamirkan diri sebagai khalifah di Cordoba, bersaing prestise dengan khalifah Abbasiyah di Baghdad dan khalifah Fatimiyah di Tunisia dan Mesir.

Era kekhalifahan (929-1031) adalah masa keemasan Al-Andalus. Cordoba yang memiliki populasi sekitar 100.000 jiwa, lebih besar dan lebih makmur dari kota-kota lain di Eropa (kecuali Konstantinopel).  Kota tersebut menjadi salah satu pusat budaya dunia Muslim yang penting, dan para filsuf serta kaum terpelajarnya memiliki pengaruh penting dalam kehidupan intelektual Eropa di abad pertengahan.

Kaum Umayyah tidak konsisten dalam memperlakukan non-Muslim di Al-Andalus. Di awal tahun 912 terdapat masa toleransi dalam pemerintahan Abd al Rahman III dan anaknya Al Hakam II, dimana orang-orang Yahudi dan Kristen di Al-Andalus dapat hidup makmur. Namun dengan kematian Al-Hakam III pada tahun 976, situasi orang-orang Yahudi dan Kristen jadi memburuk.

Pada Tahun 1031 khalifah terakhir bani Umayyah diusir dari Cordoba, dan kekhalifahan mulai terpecah menjadi sejumlah negara bagian kecil (taifa), terlalu lemah untuk membela diri sendiri terhadap serbuan negara-negara Kristen di utara. Pada Desember 1066 orang-orang Yahudi diusir dari Granada dan 1.500 keluarga Yahudi yang menolak meninggalkan tempat itu dibunuh.

Negara-negara kecil taifa meminta pertolongan dari penguasa puritan Afrika Utara Almoravid, yang tiba tahun 1086 dan mengambil kesempatan untuk menaklukkan kerajaan-kerajaan taifa dan mempersatukan kembali negara Islam di Spanyol. Kaum Almoravid dan penerus mereka, kaum Almohad, yang fanatik kurang toleran dibandingkan dengan kaum Umayyah. Mereka menganiaya orang-orang Kristen dan Yahudi. Di bawah Almoravid orang-orang Yahudi dipaksa untuk masuk islam, dan orang-orang Kristen diusir, kebanyakan ke Afrika utara. Setelah Almohad mengalahkan Almoravid dan mengambil alih kekuasaan pada tahun 1148, orang Yahudi kembali dipaksa masuk Islam; harta milik mereka disita dan banyak yang dijual sebagai budak. Orang-orang Kristen juga dianiaya dengan hebat dan diusir.

Pada tahun 1212 sebuah koalisi Kristen di bawah Raja Kastilia, Alfonso VIII, mengalahkan kaum Almohad dalam pertempuran Las Navas de Tolosa. Ini adalah awal dari berakhirnya dominasi Muslim di Spanyol, dan Muslim berangsur-angsur diusir ke selatan, hingga akhirnya hanya Granada yang tetap ada di bawah kendali Muslim. Granada bertahan selama hampir tiga abad lebih sebagai negara pengikut Kastilia. Pada tahun 1492, Boabdil, emir terakhir Granada, menyerah pada tentara Kristen Spanyol, yang bersekutu di bawah Isabella I dari Kastilia dan Ferdinand II dari Aragon.

JAMAN PRAMODERN

Di abad ke-17, tiga kerajaan besar Islam mendominasi dunia Muslim: kekaisaran Utsmani (Sunni) di Asia Kecil, Timur Tengah, Afrika Utara dan Eropa; kekaisaran Safawi (Syiah) di jantung Iran, sebagian Asia Tengah dan Kaukasus; dan kekaisaran Mogul (Sunni) di India Utara.

Kekaisaran Utsmani

Kaum Utsmani adalah dinasti Turki yang telah menyatukan seluruh negara bagian Turki di Asia Kecil dan pada tahun 1453 merebut Konstantinopel (mengganti namanya menjadi Istanbul), dan mengakhiri kekaisaran Byzantium Kristen. Lalu mereka bergerak ke arah selatan Eropa, menaklukkan sebagian besar Balkan dan dua kali mencapai gerbang Vienna (1529 dan 1683). Pasukan terbaik mereka, pasukan Janissaries, terdiri dari anak laki-laki Kristen dari Balkan yang mungkin diambil secara paksa dari keluarga mereka, dipaksa menjadi Islam dan dilatih sebagai tentara profesional. Selama ratusan tahun, Eropa Kristen hidup dalam ketakutan terhadap kekaisaran Utsmani Muslim yang kuat dan ekspansinya yang terus berlangsung hingga ke jantung Eropa. Kaum Utsmani juga mengalahkan kekaisaran Mamluk (yang terdiri dari Mesir, Syria, Palestina, dan Semenanjung Arab), dan mereka dikenal sebagai tuan atas penguasa Afrika Utara sejauh barat hingga ke Aljazair. Tetapi beberapa abad kemudian, seiring dengan melemahnya kekaisaran ini, beberapa wilayah mereka direbut oleh kekaisaran Rusia dan Austria.  Akhirnya mereka ditaklukkan oleh tentara Sekutu setelah Perang Dunia Pertama.

Kekaisaran Safawi (1501-1736)

Shah Ismail, yang mendirikan kekaisaran Syiah Safawi di Persia, mengklaim dirinya sebagai keturunan dari Ali dan Fatima. Kaum Safawi mendasarkan legitimasi mereka pada klaim mereka sebagai keturunan imam-imam Syiah, anggota dari Imam Tersembunyi dan para penguasa sampai kedatangannya. Shah Ismail mendukung harapan mesianik dan menetapkan Syiah Imamiyah sebagai agama negara dalam upayanya untuk menyatukan kerajaannya melawan Utsmani Sunni. Islam Syiah digunakan untuk memperkuat pemerintahan Safawi atas populasinya yang terdiri dari etnis yang beragam, dan para ulama Syiah menjadi bagian dari birokrasi negara.

Perang antara kerajaan Safawi dan kerajaan Utsmani berlangsung selama dua abad hingga batas kedua kerajaan ditetapkan. Hal ini mengakibatkan sebagian besar populasi Syiah berada di bawah pemerintahan Utsmani dan karenanya rentan terhadap penganiayaan Sunni.

Safawi kemudian memindahkan ibu kotanya dari Tabriz ke Isfahan, yang kemudian berubah menjadi kota yang megah dan menjadi tempat perkembangan seni dan budaya Persia.

Kerajaan Mogul (1526-1858)

Didirikan pada tahun 1526 oleh Babur, keturunan Genghis Khan dan Timurlane. Kaisar-kaisar pertama Mogul membangun kerajaannya hingga semakin besar dan kuat, meliputi hampir seluruh India kecuali daerah di bagian selatan. Kerajaan Mogul mengalami perkembangan seni dan budaya, dan sebagian besar penguasa Mogul cukup toleran terhadap masyarakat non-Muslim mereka, memandang mereka sebagai bagian yang penting untuk stabilitas, ekonomi dan kekuatan kerajaan. Di bawah pemerintahan Aurangzeb (1658-1707), kantor-kantor pemerintah mengganti pegawai non-Muslim mereka dengan pegawai Muslim, dan status dzimmi diberikan dengan paksa. Perang yang berkepanjangan dengan tujuan ekspansi  melemahkan kerajaan yang dipimpin Aurangzeb, dan setelah kematiannya kekuatan kerajaan tersebut semakin memudar. Inggris melangkah ke dalam kekosongan kekuasaan dan selanjutnya menjadi penguasa atas negara Muslim itu. Mereka akhirnya menggulingkan kaisar Mogul terakhir pada tahun 1858 dan menambahkan daerah tersebut ke dalam wilayah India lain yang telah mereka kuasai.

Ekspansi ke Asia Tenggara

Islam menyebar dari berbagai bagian Arab dan India hingga ke semenanjung Malaysia dan kepulauan Indonesia pada abad ke-12 hingga 15. Pada saat yang sama Islam juga mencapai bibir pantai yang saat ini disebut Burma (Myanmar) dan Thailand.

Penyebaran Islam di Asia Tenggara berbeda dari kebanyakan daerah lainnya; ia tidak dipaksakan lewat penaklukan militer tetapi dibawa oleh para pedagang dan Sufi. Pemerintah yang berkuasa tidak digulingkan tetapi dijadikan Islam, dan secara berangsur sisa populasi mengikutinya.

Elemen khusus dari Islam Asia tenggara adalah hubungan dekatnya dengan orang-orang Melayu,  yang tersebar dari selatan Thailand hingga ke selatan Filipina, melintasi batas-batas negara modern.  Islam di Asia Tenggara cenderung menyatu dengan agama pra-Islam (terutama Hindu). Namun saat ini Islam mengambil sikap yang lebih ketat melalui pengaruh Islam Wahabi/Salafi dari Arab Saudi.

Ekspansi ke sub-Sahara Afrika

Pada gelombang pertama ekspansi Islam, Afrika Utara dengan cepat ditaklukkan oleh orang-orang Arab, yang menggerakkan proses ganda Islamisasi dan Arabisasi penduduk Berber setempat. Islam masuk ke sub-Sahara Afrika dari dua arah: dari utara ke Sahel, dibawa oleh penakluk Berber dan para pedagang sepanjang rute karavan Sahara; dan sepanjang tepi pantai Afrika Timur, dibawa oleh pedagang dan penakluk Arab Muslim yang tiba melalui laut dari Arab. Khusus di Afrika Timur ada juga migrasi dan pemukiman, dan pekerjaan dakwah Muslim, terutama oleh para Sufi.

Ekspansi Islam di selatan Mesir diblokir sementara oleh tiga kerajaan Kristen Nubia yang berkembang di sepanjang sungai Nil selama 600 tahun, tetapi antara abad ke-14 dan 16 mereka akhirnya jatuh, sehingga membuka jalan bagi ekspansi Islam lebih jauh.

Islam tiba di Afrika Selatan terutama melalui budak Melayu Muslim dan buruh India Muslim di abad ke-18 dan 19.

Kolonialisme Eropa

Walaupun negara-negara Muslim sangat dominan di dunia politik selama ribuan tahun pertama sejak Islam ditemukan, tetapi negara-negara Muslim harus bertahan selama 300 tahun sejak bangkitnya kolonialisme Eropa. Pada abad ke-18 dan 19 dunia Muslim dipaksa untuk menyerah pada kekuatan Eropa. Proses ini mencapai puncaknya dengan jatuhnya kekaisaran Utsmani setelah Perang Dunia Pertama. Berbagai gerakan perlawanan yang memproklamirkan jihad terhadap kekuatan barat dikalahkan oleh kekuatan pasukan yang lebih unggul.

Bagi orang-orang Islam yang menganggap bahwa kekuasaan politik merupakan hak yang diberikan Allah mereka, kekalahan mereka merupakan pengalaman yang mengejutkan, menakutkan dan memalukan. Hal ini membangkitkan berbagai gerakan reformasi dan perlawanan dari masyarakat Muslim sembari mereka mencari alasan atas ketidakberdayaan yang tidak biasa mereka alami. (Lihat hal. 75-76 tentang Islam radikal)

ERA KEMERDEKAAN

Mayoritas negara Muslim telah mendapatkan kemerdekaan mereka pada tahun 1965. Banyak yang mencoba menjalankan sistem pemerintahan sosialisme. Ketika ini gagal, mereka lantas semakin berpaling kepada Islam. Kebanyakan mereka gagal membangun rezim demokratis yang stabil atau pembangunan ekonomi yang sejalan dengan angka pertumbuhan penduduknya. Banyak Muslim yang menyalahkan keadaan ini sebagai akibat neo-kolonialisme Barat, yang mereka percaya digunakan agar negara Muslim tetap bergantung kepada pihak Barat secara ekonomi, politik dan budaya. Globalisasi dan pekerjaan misionaris Kristen juga dipandang oleh banyak Muslim sebagai bagian dari upaya Barat untuk mendominasi dan melemahkan dunia Islam.

Pengecualian dari aturan umum adalah negara-negara Muslim yang kaya minyak, seperti Arab Saudi dan negara-negara Teluk, yang telah mencapai kekuatan ekonomi dan kekayaan yang luar biasa sejak tahun 1970-an. Kekayaan ini digunakan untuk mendanai kebangkitan Islam dan norma-norma Islami di seluruh dunia, anti Barat dan Wahabi/Salafi.

This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , . Bookmark the permalink.

5 Responses to Bab 6 Sejarah Islam

  1. hakkullah says:

    @untuk penulis artikel ini
    anda belum tahu, sebelumnya sdh diberitahukan tanda2 kedatangan hari kiamat, di antara diutusnya nabi terakhir, kemudian akan terjadi perselisihan di antara ummat muhammad saw (ini sdh dimulai pada masa khalifah Utsman bin Affan dan dilanjutkan pada masa Ali bin Abi Thalib)..
    dan anda haus tahu, pertumpahan darah terjadi bukanlah islam, terjadi akibat di hati mereka, cenderung kpd hawa nafsu mereka..Ali bin abi Thalib, termasuk shahabat dijamin masuk surga..jadi, perselisihan suatu hal yang wajar, sama spt kasus injil, mereka juga berselisih, cuma islam tidak bisa direkayasa, atau dibohongi oleh siapapun ataupun dirubah, sementara injil bisa dirubah2 dan direkayasa oleh Yahudi dan Syiah termasuk rekayasa Yahudi..maka orang2 Yahudi tidak berhasil menghancurkan islam dengan berbagai tuduhan, doktrin dan memalsukan alquran..sebab itu, alquran tetap eksis dan orang2 yahudi gagal…

  2. mifta says:

    terimakasih atas segala sumbangsihnya dlm menyajikan sejarah, untuk keudian kita mampu menyibak mutiara hikmah dan menyadari sejarah masa lalu tentang pertumpahan tak perlu lagi terjadi.. mari menjadi agen agama yang baik.. apapun agama kita🙂

  3. Jermia says:

    Injil tak di rubah, karena pesannya sangat sederhana yaitu: Kalimat Allah menjelma jadi manusia, menyerahkan nyawa-Nya sebagai tebusan dosa, lalu bangkit dari orang mati dan naik ke Surga.
    Terjemahan ke dalam bahasa apapun, isi injil hanya seperti itu.
    Soal perubahan dalam kitab suci, juga di alami oleh quran. Selama tidak ada ejaan Tempo Doeloe maka udah di revisi.

    Kalo bible di rubah, maka pasti quran juga salah karena byk kisah bible ada dalam quran juga. Lihatlah yang tersirat bukan hanya yang tersurat.

  4. guram says:

    Yang jelas quran itu kacau balau sulit dipahami makanya perlu hadis dan ulama untuk menjelaskannya, jadi quran itu sangat jauh dari sempurna ini diakibatkan dari kehadiran muhammad sebagai nabi, tidak ada rujukan dalm kitab apapun ttg kedatangannya, jadi muhammad adalah nabi palsu karena tidak ada bukti dan saksi dia sebagai nabi, silakan dibahas ini saja dulu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s