Bab 5 Wanita dalam Islam

LIMA

WANITA DALAM ISLAM

KEDUDUKAN WANITA DALAM KELUARGA

Wanita Muslim selalu ada di bawah perlindungan salah satu kerabat pria: ayah, suami, kakak laki-laki, paman, atau anak laki-laki. Banyak larangan yang ditujukan untuk wanita adalah demi melindungi kehormatannya – karena kehormatan keluarga tergantung dari hal itu – sehingga harus dijaga dengan hati-hati. Ada pendapat bahwa semakin ketat seorang wanita dijaga, maka semakin berharga nilainya. Seorang wanita harus perawan saat menikah.

Sering kali seorang wanita harus minta ijin dari kerabat pria sekalipun hanya untuk mengunjungi ibu atau saudarinya. Dia jarang keluar sendirian, kecuali ditemani seorang kerabat pria atau sejumlah kerabat perempuan. Bahkan anak laki-laki kecil, dalam hal ini, bisa menjadi pendamping bagi ibu atau kakak wanitanya.

Tempat wanita adalah di rumah. Tugasnya adalah melahirkan anak laki-laki bagi suaminya, merawat anak-anak dan suami, dan melakukan pekerjaan rumah tangga. Beberapa wanita boleh berkarir di luar untuk menambah keuangan keluarga, tapi biasanya hanya dilakukan dalam keadaan terpaksa saja. Jarang sekali seorang suami akan membantu pekerjaan rumah tangga, walaupun istrinya harus bekerja penuh waktu. Meskipun istri yang biasanya memasak, dalam beberapa masyarakat  tertentu sang suami yang akan memasak untuk acara-acara khusus. Bila tamu yang berkunjung terdiri dari pria dan wanita, maka para wanita dari keluarga tersebut lebih sering berada di ruang dalam saja sementara para pria yang akan menemani tamu pria dan tamu wanita yang kurang dikenal. Seorang tamu wanita Kristen mungkin akan mendapati dirinya ditempatkan di dalam ruangan campuran pria dan wanita ini, dijauhkan dari para wanita dalam keluarga itu. Diundang untuk bergabung dengan para wanita di ruang dalam keluarga merupakan suatu kehormatan yang menandakan keintiman dan kepercayaan.

PAKAIAN

Islam mengajarkan bahwa seorang wanita harus berpakaian secara sederhana, menutupi dirinya dari leher hingga pergelangan tangan dan kaki serta menutupi rambutnya. Budaya yang berbeda menerapkan kriteria ini dengan cara yang berbeda pula. Penutup tidak boleh tembus pandang maupun ketat. Rambut yang panjang terurai dianggap tidak sopan.

Di beberapa bagian dunia, ada tuntutan tambahan bagi para wanita karena adat-istiadat di sana, misalnya, menutupi kaki, tangan atau wajah. Dalam beberapa budaya, meskipun diperbolehkan memakai pakaian berwarna cerah di dalam rumah, pakaian ini harus ditutupi dengan pakaian luar berwarna gelap saat wanita tersebut keluar rumah.

Hijab – kerudung dan cadar wanita – dapat memiliki arti politis. Di beberapa negara yang lebih sekuler, seperti Turki, pemakaian cadar dilarang di tempat-tempat tertentu seperti sekolah, universitas, dan kantor pemerintah. Di negara-negara konservatif, seperti Arab Saudi, cadar adalah suatu keharusan.  Di negara Barat, hal ini menjadi kontroversi apakah gadis-gadis Muslim boleh dilarang mengenakan cadar ke sekolah, atau wanita-wanita Muslim dilarang mengenakannya di tempat kerja.  Beberapa tahun terakhir ini banyak perempuan muda Muslim yang menggunakan hijab, baik di Barat maupun di tempat lain. Kadang-kadang itu karena tekanan keluarga tetapi kadang-kadang karena pilihan mereka sendiri melalui keyakinan agama.

PERKAWINAN

Dalam Quran, perkawinan dipandang sebagai hadiah dari Allah (Q 16:72) dan kondisi normal manusia (Q 4:25). Status lajang dipandang sebagai sesuatu yang tidak diharapkan dan bisa jadi merupakan indikasi imoralitas. Demikian pula keinginan untuk tidak memiliki anak dianggap konsep yang mengherankan untuk kebanyakan Muslim. Namun ada beberapa bagian masyarakat Muslim yang menyetujui bila seseorang tidak menikah karena alasan keagamaan.

Perkawinan bukan untuk menyatukan dua individu tetapi lebih kepada menyatukan kedua keluarga yang bersangkutan. Karena itu perkawinan hampir selalu diatur oleh keluarga dari kedua belah pihak, dengan sedikit atau bahkan sama sekali tidak berkonsultasi dulu dengan kedua calon pengantin, yang terkadang keduanya bahkan tidak saling kenal hingga hari pernikahan mereka. Sebenarnya, sang anak boleh menolak pasangan yang dipilihkan keluarganya, tetapi dalam prakteknya seringkali ada tekanan besar dan pemerasan secara emosional agar mereka bersedia menerima dan tidak membuat malu pihak keluarga dengan menolak perjodohan. Pengantin wanita bahkan boleh tidak hadir pada upacara akad nikah, tetapi bisa diwakili oleh salah seorang kerabat laki-laki.

Dalam beberapa kelompok masyarakat, sudah umum jika terjadi perjodohan antar kerabat dekat, misalnya antar sepupu, baik yang dekat maupun yang jauh. Faktor keuangan dan status sosial merupakan hal penting dalam menentukan pilihan jika orang yang hendak dijodohkan tersebut bukan berasal dari kerabat keluarga. Seorang laki-laki Muslim diperbolehkan untuk menikahi  wanita Kristen atau Yahudi, tetapi seorang wanita Muslim hanya boleh menikah dengan laki-laki Muslim.

Cinta diharapkan akan tumbuh antara suami istri setelah menikah. Meskipun demikian, cinta ini tidak diharapkan untuk berkembang menjadi bentuk pengabdian dan persahabatan yang mesra seperti yang biasanya diharapkan orang Barat dalam pernikahan. Seorang gadis Muslim telah diajarkan sejak kecil agar mengharapkan kasih sayang dari anak-anaknya saja, terutama anak laki-laki, dan bukan dari suaminya yang tugas utamanya adalah sebagai pencari nafkah dan pelindung keluarga. Umumnya ikatan terdekat di dalam keluarga Muslim adalah ikatan antara ibu dengan anak laki-lakinya.

Akan merupakan konflik yang menyakitkan bagi generasi muda Muslim yang telah dibesarkan di tengah masyarakat Barat untuk memilih antara apa yang ideal menurut generasi lebih tua dalam keluarganya dan apa yang ideal menurut budaya mayoritas. Menemukan jodoh dan membawanya pulang dari ‘negara asal’ sudah merupakan hal umum di Inggris, sehingga baik suami maupun istri, dapat dipastikan, masuk ke dalam mahligai perkawinan dengan harapan-harapan yang berbeda sama sekali.

Namun demikian banyak keluarga Muslim di Barat saat ini telah melunakkan aturan mereka. Misalnya, mereka mengijinkan pasangan muda untuk menghabiskan beberapa jam bersama sebelum memutuskan apakah mereka mau menikah. Pasangan muda yang paling bahagia mungkin mereka yang ‘cintanya saling bersambut’ dan hubungan mereka disetujui keluarga kedua belah pihak, yang selanjutnya mengambil alih, membuat persiapan sebagaimana biasa dan melakukan perundingan satu dengan lainnya.

Meskipun kedua keluarga dan pengantin laki-laki akan bersuka cita atas pernikahan yang akan dilaksanakan, pengantin wanita tidak diharapkan untuk turut merasakan hal yang sama dalam perkawinan yang diatur secara tradisionil. Ia akan meninggalkan keluarganya untuk hidup bersama keluarga asing yang tidak ia kenal. Di beberapa kelompok masyarakat, seorang pengantin wanita yang tersenyum dianggap tidak pantas, dan ia diharapkan untuk mengeluarkan air mata (kesedihan, bukan kebahagiaan) untuk menunjukkan betapa ia akan merasa kehilangan keluarganya.

Seorang istri yang meninggalkan suaminya karena tidak bahagia akan membawa aib yang mengerikan bagi dirinya. Pihak keluarga sang istri – yang harus ikut menanggung aib – akan melakukan apa saja untuk mencegah si istri kembali kepada mereka, tidak peduli seburuk apa pun ia diperlakukan oleh suami atau mertuanya.

Seorang laki-laki Muslim boleh memiliki hingga empat istri pada saat yang bersamaan, dan ia wajib memperlakukan mereka secara adil. Dia juga diijinkan untuk memukul istrinya yang tidak taat (Q 4:34).

PERCERAIAN

Menurut syariah, mudah sekali bagi seorang laki-laki Muslim untuk menceraikan istrinya; dia hanya perlu mengatakan kepadanya: ‘Aku menceraikan engkau’ sebanyak tiga kali di hadapan para saksi. Sebaliknya, sangat sulit bagi seorang wanita untuk menceraikan suaminya.

Anak-anak dari hasil pernikahan adalah milik suami dan keluarga pihak suami. Seorang istri, baik ia diceraikan maupun ditinggal mati oleh suami, harus menyerahkan anak-anaknya kepada keluarga pihak suami (walaupun ia boleh tetap memelihara bayinya sampai selesai disapih, yaitu sampai bayi berumur sekitar dua tahun).

Dalam Islam Syiah ada kawin kontrak sementara yang disebut muta. Lama pernikahan disepakati dalam kontrak perkawinan, dan dapat bervariasi mulai dari satu jam hingga 99 tahun. Mengingat bahwa laki-laki boleh memiliki lebih dari satu istri secara bersamaan, pada dasarnya pengaturan ini bisa dijadikan sebagai dasar prostitusi yang sah.

KELUARGA BERENCANA DAN ABORSI

Meskipun umumnya diharapkan bisa mendapat keluarga yang besar, Islam tidak melarang kontrasepsi.  Aborsi diperkenankan, meskipun beberapa ulama Islam mengijinkan hal itu hanya jika nyawa si ibu dipertaruhkan atau jika kemungkinan besar bayi tersebut akan cacat parah. Bayi yang akan digugurkan tidak boleh berusia lebih dari 40-120 hari, umur pastinya tergantung dari syariah mana yang diikuti.

Karena semua anak dari lelaki Muslim dianggap Muslim, apapun agama ibunya, seorang lelaki Muslim akan berusaha mendapatkan anak sebanyak mungkin sebagai salah satu cara agar Islam dapat tersebar pada tempat dan waktu tertentu. Pola pikir inilah yang tampaknya ada dibalik pemerkosaan wanita-wanita Kristen oleh pria-pria Muslim yang terjadi saat ini di negara-negara Muslim. Harus dicatat bahwa pemerkosaan juga dianggap sebagai cara untuk mencemarkan si wanita. Sebuah strategi misi Muslim yang digunakan di tempat-tempat tertentu di Afrika adalah pria Muslim menikahi wanita Kristen, dan ada pula yang dibayar berdasarkan jumlah wanita Kristen yang berhasil mereka nikahi, terlebih lagi jika wanita itu adalah anak pendeta.

KEWAJIBAN ROHANI

Wanita diharuskan menjalankan kelima rukun Islam, sebagaimana yang dilakukan para pria, meskipun menstruasi dianggap membatalkan doa dan puasa. Ada berbagai pendapat dalam masyarakat Muslim dalam hal apakah wanita boleh menghadiri  doa bersama di mesjid. Kalau pun mereka diperbolehkan, mereka harus melakukannya di tempat tertutup, terpisah dan tidak terlihat oleh para pria. Para wanita dijanjikan upah surgawi yang sama dengan pria (Q 16:97) walaupun harus dikatakan bahwa sebuah surga yang penuh dengan perawan-perawan cantik (Q 44:54; 55:72) bukanlah tempat yang terlalu menyenangkan bagi wanita sebagaimana bagi para pria. Beberapa hadits menyatakan bahwa ketaatan seorang wanita kepada suaminya adalah prasyarat utama bagi dia untuk masuk ke surga.

Banyak wanita memiliki sedikit pengetahuan tentang Islam atau ajaran Quran yang sebenarnya, meskipun secara umum mereka tahu tentang hari kiamat. Seringkali yang mereka tahu adalah hadits tertentu yang menyatakan bahwa sebagian besar wanita akan masuk neraka (sementara sebagian besar laki-laki akan masuk surga). Tidak heran jika hidup mereka sering didominasi oleh tahayul dan ketakutan, dan banyak yang mempraktekkan ‘Islam rakyat’ (lihat hal. 74).

STATUS LEGAL

Menurut syariah, kesaksian dan kompensasi wanita hanya setengah nilainya dari pria. Jadi, dua saksi wanita setara dengan satu saksi pria dalam pengadilan hukum Islam (di mana vonis dijatuhkan dengan cara menghitung jumlah saksi dari setiap pihak). Wanita hanya akan menerima kompensasi senilai 50% dari kompensasi yang diterima pria atas cedera yang sama. Demikian pula, seorang anak perempuan biasanya hanya menerima warisan setengah dari apa yang diterima saudara laki-lakinya; hal ini dibenarkan karena laki-laki dianggap memiliki tanggung-jawab keuangan yang lebih besar.

Posisi yang tidak setara yang diterima wanita dalam hal perceraian dan poligami telah dijelaskan sebelumnya.

This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Bab 5 Wanita dalam Islam

  1. Jubah Dress says:

    Saya tak bermaksud nak kondem sesaper… tapi post nie memang menarik dan kalau terkena tepi kain yg lain tu…

    anggaplah satu terguran ikhlas dari penulis..

  2. guram says:

    Yang patut dicontohin dari islam itu boleh punya bini lebih dari satu,2,3 sampe 4.

    P8emikir muslim masa kini berpikir, bahwa wanita lebih banyak dr pria kasian dong wanitanya tidak kebagian pria. Dengan pria beristri lebih dari satu maka muslim berpikir ini lebih adil secara sosial karena islam mengijinkanya. Wanita memang nilainya lebih rendah dari pria maka para istri harus tunduk dan taat pada suami. Kalau tidak taat, para suami boleh bertindak apa saja termasuk memukul, menceraikan dll. Dan tiada berhak masuk surga, karena surga hanya untuk kaum pria, Itu indahnya islam???…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s