Bab 4 Lima Pilar Islam

EMPAT

LIMA PILAR ISLAM

PENDAHULUAN

Islam memiliki aturan ketaatan beragama yang sudah sangat maju, yang disebut arkan-ud-din [rukun agama]. Bab ini menjelaskan praktek-praktek umum mayoritas Muslim; dalam pelaksanaannya terdapat berbagai variasi di beberapa sekte Muslim. Kelima rukun itu adalah:

Pengakuan iman

Doa (sholat)

Puasa

Memberi sedekah

Naik haji ke Mekah

Beberapa Muslim menambahkan jihad sebagai rukun keenam.

Semua ini adalah kewajiban berdasarkan perintah eksplisit baik dalam Quran maupun hadits. Tidak ada cara untuk menghindarinya. Selain kewajiban di atas, ada tugas-tugas lain yang diharapkan dari seorang Muslim yang baik, tetapi karena hanya dianggap ‘perlu’, tugas-tugas ini tidak sama nilainya dengan kewajiban-kewajiban di atas yang dianggap ‘wajib’.

Kewajiban-kewajiban ini dianggap sangat penting oleh kebanyakan Muslim. Mereka percaya, terhadap otoritas Quran, bahwa keselamatan dapat diperoleh dengan melakukan ‘pekerjaan-pekerjaan’ seperti ini. Oleh karenanya melaksanakan kewajiban-kewajiban ini menjadi pokok perhatian, bahkan kegelisahan dan ketakutan mereka. Gambar sepasang timbangan di dinding bangunan Muslim menyampaikan kepada mereka lebih dari sekedar ide keadilan. Gambar timbangan tersebut mengingatkan mereka akan pernyataan di dalam Quran:

Barangsiapa berat timbangan (kebaikan)nya,

maka mereka itulah

orang-orang yang beruntung.

Dan barangsiapa ringan timbangan (kebaikan)nya,

maka mereka itulah

orang-orang yang merugikan dirinya sendiri,

mereka kekal di dalam neraka Jahanam. (Q 23:102,103)

PENGAKUAN IMAN [syahadat]

Syahadat [pengakuan] berasal dari akar kata Arab yang berarti ‘bersaksi’, sehingga, pada hakekatnya, pengakuan iman seorang Muslim berbunyi:

‘Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah Rasul Allah’

DOA (sholat)

1. Pakaian

Pakaian yang dipakai saat sholat penting untuk seorang Muslim, karena dahinya harus menyentuh lantai. Pria Muslim memakai topi atau turban yang tidak bertepi. Dalam pakaian tradisional, laki-laki biasanya melepaskan celana panjangnya di balik jubah panjangnya untuk sholat dan semua Muslim harus melepas alas kaki mereka.

2. Pembasuhan

Seorang Muslim harus melakukan ritual pembasuhan tertentu sebelum memulai sholat. Terdapat tiga jenis pembasuhan:

(a) wudhu – pembasuhan yang lebih sedikit. Ini adalah bentuk pembasuhan yang paling umum di manapun tersedia air, dan biasa dilakukan sebelum sembahyang harian yang telah ditentukan waktunya.

Untuk membasuh keempat bagian tubuh ada aturan yang telah ditetapkan: bagian wajah, dari ujung dahi ke dagu hingga ke masing-masing telinga; tangan dan lengan, sampai dengan siku; seperempat bagian kepala diseka dengan tangan yang basah; dan kaki dibasuh hingga ke pergelangan kaki. Kelompok Syiah hanya mengusap – atau lebih tepatnya menggosok – bagian kaki. Kebanyakan Muslim percaya bahwa, bila ada bagian tubuh yang terlewatkan saat dibasuh, maka doa yang dilaksanakan kemudian, sekalipun diucapkan dengan benar, akan hilang nilainya.

Sebagai tambahan dari keempat aturan utama tersebut, masih ada 14 aturan tambahan.  Termasuk di dalamnya: menyebutkan salah satu nama Allah pada saat memulai pembasuhan; membersihkan gigi, berkumur tiga kali; memasukkan air ke lubang hidung tiga kali (alasan kenapa aturan khusus ini dibuat dipercaya karena pernyataan Muhammad bagi mereka yang baru bangun tidur bahwa ‘setan tinggal di dalam hidung’); dan melakukan proses pembasuhan dari kepala hingga kaki berdasarkan urutan yang benar. Jenggot harus disisir dengan jari yang basah; orang tersebut harus menggosok bagian bawah dan antara jari kaki dengan jari tangan kiri yang basah, dimulai dari jari kaki kanan dan diakhiri dengan jari kaki kiri.

Ini adalah keyakinan Muslim ortodoks, berdasarkan ungkapan Muhammad, bahwa dosa kecil akan diampuni setelah melakukan wudhu, yang sepatutnya diikuti dengan doa.

(b) ghusl – mandi seluruh tubuh setelah melakukan tindakan pencemaran hukum. Dalam hal ini, air harus  dituangkan tiga kali melalui bahu kanan, tiga kali melalui bahu kiri, dan terakhir tiga kali di kepala. Selain itu, ada tiga peraturan yang lebih ‘wajib’ hukumnya: mulut harus dicuci, air harus dimasukkan ke lubang hidung, dan seluruh tubuh harus dimandikan. Tidak boleh sampai ada sehelai rambutpun yang kering dalam proses ini.

(c ) tayammum – pemurnian dengan pasir atau tanah. Prosedur ini diperuntukkan bagi keadaan tertentu;  misalnya, ketika tidak bisa mendapatkan air dalam jarak 2 mil, atau saat seseorang sedang sakit dan penggunaan air bisa membahayakan orang tersebut, atau ketika air tidak bisa didapatkan karena resiko bertemu musuh, binatang buas atau reptil. Cara ini bisa dipilih oleh seseorang yang, tertunda karena perayaan atau penguburan, sehingga tidak punya cukup waktu untuk melaksanakan ritual pembasuhan air. Pembasuhan ini dilakukan dengan memukul pasir atau tanah dengan telapak tangan terbuka lalu mengusapkannya ke seluruh wajah dan lengan sampai ke siku.

3. Pengucapan Doa

Setelah melakukan pembasuhan yang diperlukan, seorang muslimin kini siap mengucapkan doa yang telah ditentukan. Hal ini bisa dilakukan di tempat tertutup atau di muka umum, dan sudah menjadi hal umum jika ada pria Muslim, baik sendiri atau berkelompok, mengucapkan doanya di jalan dan tempat-tempat umum lainnya, jika kebetulan saat sembahyang telah tiba. Tetapi doa yang diucapkan bersama dalam jamaah di dalam mesjid dianggap lebih berpahala.

Wajah harus dihadapkan ke kiblat [arah sembahyang] yaitu ke arah Mekah. Di dinding setiap mesjid terdapat mihrab atau ceruk yang menunjukkan arah ini.

4. Panggilan untuk bersembahyang

Doa di mesjid didahului oleh adzan [panggilan untuk bersembahyang]. Panggilan ini dikumandangkan, dengan nada yang menusuk, oleh muazin dari atas ketinggian menara mesjid itu.  Dewasa ini, sudah merupakan hal umum bagi muazin untuk menggunakan pengeras suara. Panggilan itu dilakukan lima kali sehari, dan terdiri dari kalimat-kalimat pendek yang mendatangkan tanggapan perkataan serupa, kalimat demi kalimat, dari orang yang akan bersembahyang dalam jangkauan pendengaran mereka. Muazin akan meneriakkan: ‘Allah maha besar. Aku bersaksi tidak ada tuhan selain Allah. Aku bersaksi Muhammad adalah Rasul Allah. Mari naikkan sholat, mari lakukan kebaikan.’ Pagi dini hari sang muazin berseru, ‘Sholat lebih baik dari pada tidur. Allah maha besar. Tidak ada tuhan selain Allah.’

5. Sikap tubuh saat bersembahyang

Selama bersembahyang, orang yang sedang bersembahyang harus melakukan serangkaian sikap tubuh berdiri dan berlutut sesuai aturan yang rinci. Kata-kata dalam doa ini sebenarnya berupa hafalan dalam bahasa Arab, dari beberapa bagian Quran, terutama surah-surah yang pendek, yang ditempatkan dalam bentuk Quran kanonik di bagian akhir kitab, bersama surah fatiha, nama yang diberikan untuk surah 1. Menutup mata selama bersembahyang adalah hal yang tidak disetujui oleh kaum ortodoks.

Pada saat jeda yang ditentukan di tengah pembacaan doa tadi, orang tersebut mengucapkan takbir [pengakuan kebesaran Allah], yakni kata-kata yang sangat kita kenal, Allahu Akbar [Allah maha besar]. Hal ini diikuti sikap bersujud rendah, dalam posisi berlutut, sampai dahi benar-benar menyentuh tanah.

Rangkaian sikap tubuh dengan jumlah tertentu membentuk satu unit sembahyang lengkap, dan seorang Muslim boleh melakukan dua rakaat [unit sembahyang] atau lebih, tergantung dari apa yang telah diniatkan sebelumnya saat ia mendengar gema adzan.

Di akhir rakaat, orang tersebut mengucapkan durud, atau doa bagi Muhammad yang bunyinya: “Ya Allah, ampunilah Muhammad dan keturunannya. Engkau layak dipuji dan Engkau mahabesar’, dan sebagainya. Kemudian dia memalingkan kepala, mula-mula ke kanan sambil mengucap salam: ‘Damai dan rahmat Allah bersama denganmu’, kemudian berpaling ke kiri dan mengucapkan kata-kata yang sama.

Sebagai penutup sembahyang, tangan dinaikkan setinggi pundak, dengan telapak tangan terbuka dan menghadap ke atas, dan orang tersebut memanjatkan sebuah permohonan terakhir, boleh menggunakan bahasa Arab maupun bahasa sehari-hari mereka, lalu menarik tangannya sambil mengusap mulai dari muka turun hingga ke dada seolah meminta berkat bagi seluruh bagian tubuhnya.

6. Waktu sembahyang

Sembahyang wajib harian ditetapkan lima kali sehari di dalam tradisi, bukan dalam Quran. Waktu tersebut diberi nama dan didefinisikan sebagai berikut:

Fajar (subuh) – subuh, sebelum matahari terbit

Zuhur (lohor) – waktu tengah hari

Asar – pertengahan sore

Maghrib – segera setelah matahari terbenam

Isha (isya) –  setelah sinar matahari hilang dari penglihatan.

Sembahyang Jumat [jumma – hari suci umat Islam] menggantikan sembahyang tengah hari yang biasa. Beda antara sembahyang Jumat dan sembahyang tengah hari biasa adalah, sembahyang Jumat didahului dengan khotbah yang disampaikan oleh imam [pemimpin mesjid].

7. Penyampaian doa sukarela (dua)

Ini merupakan doa-doa pribadi untuk memohon berbagai bantuan sesuai dengan situasi yang sedang dihadapi. Doa-doa ini tidak mengikuti ritual atau pola tertentu.

PUASA [sawm]

Puasa dilaksanakan pada siang hari pada bulan ke sembilan menurut penanggalan Islam (Ramadhan). Ini dipercaya untuk mengenang saat dimana Muhammad menerima wahyu pertamanya dari malaikat Jibril. Puasa didefinisikan sebagai berpantang dari makanan dan minuman, parfum, tembakau, dan hubungan seksual, dalam rentang waktu antara matahari terbit hingga terbenam.

Setiap hari, segera setelah matahari terbenam, umat Muslim berbuka puasa dengan ritual makan buah kurma atau minum air. Lalu sebuah doa dipanjatkan: ‘Ya Allah, aku berpuasa demi Engkau dan beriman kepadaMu, dan percaya kepadaMu, dan sekarang aku berbuka dengan makanan yang Kau berikan. Terimalah puasaku ini.” Setelah itu, boleh menyantap makanan yang banyak dan lezat, yang disebut iftar.

Puasa merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan selama bulan Ramadhan. Anak-anak yang masih kecil dan orang yang cacat mental dikecualikan, sedangkan mereka yang sakit, yang sedang di tengah perjalanan, wanita hamil dan ibu menyusui bisa menundanya ke waktu yang lain. Orang yang sudah tua dan lemah, sebagai pengganti puasa, harus memberi makan orang miskin. Ada juga puasa-puasa lain yang bersifat sukarela.

Puasa Ramadhan dimulai saat penampakan pertama dari bulan baru, yang menandai awal bulan itu, dan harus dilaksanakan dengan ketat. Di musim panas tropis, atau musim panas yang panjang di daerah dekat kutub, puasa ini bisa menjadi pencobaan yang berat. Majikan Muslim biasanya tidak mengharapkan banyak pekerjaan dari karyawan mereka selama Ramadhan. Selain makan besar setiap malam setelah matahari terbenam, ada perayaan penuh kegembiraan di akhir bulan (Idul Fitri).

Ada beberapa hal yang mengakibatkan puasa menjadi batal: jika, ketika membersihkan gigi, ada setetes air yang masuk ke kerongkongan; jika makanan dimakan karena paksaan; jika obat dimasukkan ke dalam telinga, hidung, atau bahkan luka di kepala; jika makanan dimakan karena salah memperkirakan waktu; jika setelah makan malam ada secuil makanan yang ukurannya lebih besar dari sebutir biji jagung tersangkut di gigi berlubang atau di sela gigi; jika makanan dimuntahkan. Dalam kasus-kasus seperti di atas, puasa tetap harus dilaksanakan pada hari selanjutnya. Jika puasa batal secara sengaja, maka akan dikenakan hukuman tertentu. Di masa lalu, si pelanggar harus menebus kesalahannya dengan cara membebaskan seorang budak, atau berpuasa tiap hari selama dua bulan, atau memberi makan 60 orang masing-masing dua porsi makanan, atau kepada satu orang dua kali sehari selama 60 hari. Bahkan sekarang ada negara-negara tertentu yang memberlakukan hukuman penjara dan denda.

MEMBERI SEDEKAH [zakat]

Ada dua istilah yang digunakan untuk sedekah dalam Islam: zakat, sedekah yang wajib – tunduk pada kondisi tertentu – bagi setiap Muslim; dan sadaqa, pemberian sukarela, yang diberikan pada perayaan tahunan yang dikenal dengan Idul Fitri, di akhir bulan Ramadhan. Istilah kedua ini bisa dipakai untuk pengertian sedekah secara umum.

Merupakan kewajiban bagi setiap Muslim untuk memberikan zakat sebanding dengan harta yang mereka miliki, asalkan mereka memilki penghasilan yang mencukupi penghidupan. Zakat wajib bagi seseorang dengan kondisi: ia bebas, waras, dewasa dan seorang Muslim, dan pemilik dari harta kekayaan yang sah menurut undang-undang. Dalam Islam Sunni besarnya zakat adalah 2,5 %.

Zakat diberikan kepada masyarakat Muslim kelas tertentu, tidak hanya orang miskin dan yang membutuhkan saja, tetapi juga mereka yang memiliki utang, orang yang sedang dalam perjalanan, orang-orang yang mengurus dana zakat tersebut, dan orang yang baru masuk Islam. Sumbangan itu juga bisa dipakai untuk ‘jalan Allah’, sebuah ungkapan yang menunjuk pada jihad (Q 9:60). Zakat, dari awal bisa diberikan kepada budak Islam agar ia nantinya bisa membeli kebebasannya, atau diberikan pada orang miskin agar dapat menunaikan ibadah haji. Tetapi zakat tidak boleh dipakai untuk biaya pembangunan mesjid, biaya penguburan, atau pelunasan utang orang yang sudah meninggal dunia, juga tidak boleh diberikan kepada orang tua, kakek nenek, anak atau cucu. Larangan ini sering kali tidak dipatuhi saat ini.

ZIARAH KE MEKAH [ibadah haji]

Ini juga merupakan hal yang diwajibkan, sebagaimana diperintahkan dalam Quran:

Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji…

Kemudian, hendaklah mereka

menghilangkan kotoran

(yang ada di badan) mereka,

menyempurnakan nazar-nazar mereka

dan melakukan tawaf sekeliling rumah tua

(Baitullah). (Q 22:27-29)

Ayat lain tentang ‘rumah’ ini yaitu Kaabah, yang disebut ‘rumah Allah’, berbunyi:

Dan (di antara) kewajiban manusia

terhadap Allah adalah

melaksanakan ibadah haji ke Baitullah,

yaitu bagi orang-orang yang mampu

mengadakan perjalanan ke sana… (Q 3:97)

Seorang komentator terkenal menyatakan bahwa kata ‘mampu’ ditafsirkan Muhammad sebagai memiliki bekal makanan untuk perjalanan dan hewan yang bisa ditunggangi. Beberapa tradisi memperbolehkan mengirim orang lain sebagai pengganti naik haji, bahkan secara anumerta.

Muhammad dikatakan telah menyatakan bahwa orang percaya wajib untuk menunaikan ibadah haji sekali saja dalam hidupnya; perjalanan tambahan ke tanah suci dianggap sebagai tindakan ‘sukarela.’ Jika seorang anak melakukan perjalanan haji, maka dia harus kembali lagi bila telah cukup umur.  Ibadah haji ini harus dilaksanakan pada bulan ke duabelas, Dzul Hijjah.

Lokasi Kaabah di Mekah dipercaya sebagai tempat di mana Hagar merasa putus asa bagi anaknya Ismail. Menurut cerita beberapa legenda, Ibrahim dan Ismail melakukan perjalanan ziarah ke Arafah, sebagai puncaknya adalah persembahan kurban di Mina untuk mengenang kurban yang diberikan Abraham.

Ada aturan-aturan yang sangat rumit dalam pelaksanaan ibadah haji, dan aturan-aturannya bervariasi tergantung dari hukum Islam yang dianut oleh masing-masing mazhab. Beberapa aturan dianggap wajib, sedang aturan yang lain hanya dianggap sebagai ‘perlu’ saja. Sebagai pusat ritual ibadah haji adalah upacara berjalan memutari Kaabah sebanyak tujuh kali. Hal ini disebut tawaf. Para peziarah harus berpakaian putih.

Selama mengelilingi Kaabah, para peziarah diharapkan mencium Batu Hitam (Hajar Aswad). Ini adalah objek yang paling dipuja di kuil kuno tersebut. Batu itu mungkin adalah meteorit, dan sejak jaman dulu telah diperlakukan dengan rasa hormat sebagai benda yang jatuh dari langit. Menurut salah satu tradisi, Muhammad berkata: ‘Batu Hitam itu datang dari surga. Ia lebih putih dari susu, namun dosa anak-anak nabi Adam membuatnya menjadi hitam [yaitu dengan menciumnya].’

Jika orang banyak terlalu berdesakan sehingga peziarah tidak bisa mendekat untuk mencium Hajar Aswad, maka ia harus menyentuhnya dengan tangannya, atau dengan tongkat, dan mencium benda yang telah bersentuhan dengan batu tersebut. Saat melakukan itu peziarah berkata, ‘Ya Allah aku melakukan ini dalam kepercayaanMu dan pembuktian kitabMu dan mengikuti teladan nabiMu. Semoga Allah memberkati dan menyelamatkan dia! Terimalah permohonanku, kurangi halangan-halanganku, kasihani aku atas penghinaan yang kuterima, dan limpahkan pengampunanMu kepadaku.’

Selama beberapa hari, berbagai tempat suci lainnya akan dikunjungi menurut urutannya, termasuk  Gunung Arafat dan lembah Mina. Di Mina, ada tiga pilar yang harus dilempari batu, salah satu dari pilar tersebut melambangkan iblis. Akhirnya hewan-hewan dikurbankan, dan peziarah laki-laki mencukur kepalanya. Mulai saat itu ia akan dikenal dan dihormati sebagai seorang ‘haji’, orang yang telah menunaikan ibadah haji ke Mekah.

Selanjutnya, kebanyakan peziarah melakukan ziyara atau mengunjungi makam Muhammad di Madinah.

Seluruh rangkaian upacara yang berhubungan dengan ibadah haji diadopsi oleh Muhammad, mungkin dengan perubahan yang kecil sekali, dari ritual penyembahan berhala pra-Islam.

This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Bab 4 Lima Pilar Islam

  1. bintang says:

    admin harap belajar Islam dari sumber Islam. kedepankan nilai intelektual anda agar objektif

    • bang toyib says:

      betul sekali…jauh dari objektif dan tidak terlihat intelektual. untuk membahas sholat saja harus banyak membahas banyak Ayat Al-Qur’an dan Hadits2 tentang sholat secara detail, tidak berdasarkan pendapat pribadi dan pengambilan kesimpulan berdasarkan hawa nafsu sendiri, dan satu hal yang sangat penting, rasanya sangat sulit untuk menerima ilmu tentang sholat dari orang yang tidak pernah Sholat ^_^

  2. gayeng says:

    Tulisan penulis blog sangat ngawur, penuh kebohongan.
    Ibadah dalam Islam ada ajarannya yaitu melalui Quran dan dijelaskan secara rinci melalui hadist-hadist. Quran itu mutawatir (dihafal ratusan ribu umat pada saat Nabi saw masih hidup), sehingga kalau ada yang akan memalsukan, tentu umat Islam akan tahu dan bergolak. Begitulah dari generasi ke generasi Quran sampai ke kita sekarang, dijaga puluhan-ratusan juta penghafal. Hadist yang diterima umat Islam sebagai dalil juga harus melalui tahap pengujian salah satunya riwayatnya dari Nabi saw nyambung sampai ke penulis hadist (Al Bukhari dsb).

    Beda ma kristen, ibadahnya siapa nyontohin? Kok pakai piano, kok nari-nari (saya sering melihat acara-acara ibadah kristen banyak yang kaya konser musik rock), apakah semua komponen dalam misa-misa (khutbah, air suci, dsb) jaman Isa as dulu sudah ada? TIDAK ADA. BARU ADA RATUSAN TAHUN KEMUDIAN

  3. guram says:

    Penulis saya ajungi jempol anda sedikit banyak mengerti sejarah ritual islam yang kebanyakan adalah adopsi dari ritual pagan arab qurasy sejarahnya jelas dikisahkan oleh kalangan islam sendiri, tapi islam lainnya membantah karena disana memang penuh tipu-tipu problem mereka sendiri terkurung dalam kebohongan oleh sebab itu quran tidak diwajibkan mengerti isinya,tetapi wajib bisa membaca dan menghafalnya. Itulah ajaran islam yang sebenar-benarnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s